Tampilkan postingan dengan label Behind the Scenes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Behind the Scenes. Tampilkan semua postingan

LOMBA FOTOGRAFI "ON THE SPOT"


Lomba fotografi "on the spot" adalah lomba fotografi yang dilaksanakan disalah satu lokasi yang di tunjuk dan biasanya penjurian diumumkan pada hari itu juga dengan sistem gugur. Lomba seperti ini sudah sangat menjamur khususnya di surabaya, hampir setiap minggu selalu ada. Fenomena ini terjadi karena setiap orang bisa membuat foto bagus dengan murah karena perlengkapan fotografi yang semakin variatif dan murah. Biasanya event tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk promosi product / program terbaru dari sponsor acara. Saya adalah salah satu penggemar lomba fotografi "on thespot", disamping bisa berkumpul dengan para pehoby foto juga dalam mengikuti enevet tersebut tidak memerlukan banyak tenaga dan waktu.

JUARA LOMBA FOTO "ON THE SPOT"
Apakah sang juara adalah peserta dengan foto terbaik? atau sang juara hanya beruntung? Dan mungkinkah sang juara adalah seseorang yang kenal dengan jurinya?
Pertanyaan diatas pasti terlintas dalam benak kita bukan. Namun beberapa pemikiran saya mengenai Sang Juara Lomba Foto adalah seorang yang beruntung mendapatkan moment terbaik (berbeda dengan hasil foto peserta lain baik angel, pose model, konsep maupun penggunaan lighting tambahan) dengan mengonsep sebuah foto agar kesan sponsor tetap tergambarkan dengan memperhatikan karakter foto yang sangat disukai sang juri. Terkadang foto yang standart bisa menang karena memang juri lebih menyukai foto yang standart, terkadang pula foto miss focus juga bisa menang. Berikut beberapa hasil jepretan saya dengan kelebihan dan kekurangan masing - masing namun masih mendapatkan juara dalam beberapa perlombaan fotografi.


Foto.01 JUARA 2 Loba Foto Launching Honda New Supra X - Tahun 2014
Kekurangan :
Sedikit Over Exposure dengan model 1/3 bagian dari obyek sponsor (Motor New Honda Supra X) dan body motor juga model terpotong (tidak untuh masuk dalam frame).
Kelebihan :
Foto tersebut bisa masuk juara dikarenakan karena menggambarkan keceriaan sang model sesuai tema acara waktu itu (tema acaranya lupa) dan mendapatkan juara 2 karena Juara 1 dan Juara 3 model fotonya sama. Yang paling penting foto tersebut tidak "bocor" (Bocor = penampakan obyek sekitar yang tidak nayaman dan tidal layak masuk frame. contohnya : tangan peserta lain, sampah, tisu bekas model, flash peserta lain. dll).


Foto.02 JUARA 1 Photography Compettion of Majapahit Travel Fair - Tahun 2014
Kekurangan :
Sedikit under exposure sehingga detail belakang model tidak terkangkap dengan jelas. Baju model tidak terlihat jelas.
Kelebihan :
Foto tersebut bisa masuk juara 1 dikarenakan karena adanya keunikan dalam penggunaan flash membentuk bintang pada bagian belakang model (mungkin waktu itu masih sedikit yang menggunakan setting pencahayaan seperti ini) dan wajah model dengan ekspresi yang cantik dengan pose yang selaras dengan gambar di belakang model.

Foto.03 JUARA 2  Loba Foto Launching Honda CBR150R - Tahun 2015
Kekurangan :
Banyak "bocor"peserta lomba foto yang lain.
Kelebihan :
Foto tersebut bisa masuk juara 2 dikarenakan karena adanya keunikan dalam penggunaan flash yang menyinari motor dan wajah model dengan ekspresi cantik dan pose yang sexy sesuai dengan motor yang dipromosikan. Kelebihan lain adalah untuk menutupi bocor wajah - wajah peserta, saya menggunakan fasilitas multiple exposure pada kamera saya dengan mengambil gambar pancaran flash sebanyak 4 (empat) kali dengan diposisikan sesuai seperti foto.03 tersebut diatas.

Foto.04 JUARA 3 Loba Foto - Tahun 2014
Kekurangan :
Ada beberapa ruang kosong dan sedikit over exposure. Model tidak masuk dalam frame secara utuh.
Kelebihan :
Foto jenis seperti ini biasanya tidak bisa menjadi juara 1, dikarenakan penyampaian kesan sponsor tidak tersampaikan. Namun keunikan dalam foto.04 adalah dalam penggunaan komposisi framing yang mungkin tidak terpikir olah fotografer lain dan membawa foto tersebut menjadi juara 3.

Foto.05 JUARA 2  Loba Foto Launching New Ertiga Dreza - Tahun 2016
Kekurangan :
Sepintas foto itu baik-baik saja, namun jika foto.05 diperbesar maka terlihat bahwa foto tersebut "miss focus".
Kelebihan :
Angel dari atas dengan refleksi yang menarik pada mobil serta pose model yang elegan mengantar foto ini menjadi juara 2 meskipun "miss focus".

Demikian beberapa hasil foto jelek saya yang bisa menjadi juara dalam perlombaan fotografi "On The Spot". Semoga dapat menginspirasi bagi semua.

TETAP BERKARYA KARENA SANG JUARA BUKAN BERARTI MEMILIKI FOTO TERBAIK, NAMUN KEJELIAN DALAM MENGKONSEP FOTO DAN MEMBERIKAN KESAN YANG BERBEDA DALAM SEBUAH FOTO ADALAH SANG JUARA SEJATI.

Playing With Color Gel

Fig 1.  Model : Chalista

Penggunaan color gel dalam pemotretan di studio bukanlah hal baru dalam fotografi. Konsep lighting seperti ini biasanya digunakan dalam pemotretan fashion dan beauty shot dimana menonjolkan kenyamanan model dalam menggunakan produk fashion yang dipromosikan. Penggunaan color gel bertujuan menambah dramatis dari suatu foto, dimana secara psikologis manusia sangat tertarik dengan warna dengan saturasi tinggi yang beragam.

The use of color gels in the shooting, is not new in photography. The concept of such lighting is commonly used on shooting fashion and beauty shots which offers comfort fashion model in using the product being promoted. The use of gel aims to add dramatic color of a photo, which humans psychologically very interested in color with high saturation diverse.


Setup #1 
Fig 2.  Setup #1
Dari gambar 2. diatas, dapat kita perhatikan setup lighting yang digunakan. Penggunaan beauty disc untuk main light dengan ditambah 2 buah soft box untuk rim light agar dimensi model tampak jelas. Kemudian ditambah gel warna merah yang ditembakkan ke background. Pemilihan warna merah tersebut menambah dramastis warna merah dari pakaian model, namun kesan yang didapat masih halus dikarenakan ada gradasi warna background putih. 

From Figure 2, we can see the lighting setup used. Use beauty disc to the main light with plus 2 soft boxes to the rim light so that the dimensions of the model was evident. Then add red color gel fired into the background. The red gel adds dramatically red color of the clothes of model, but the impression gained is soft because there are shades of white background.


Setup #2
Fig 3.  Setup #2
Untuk menambah suasana dengan saturasi yang lebih, maka pemilihan backgroud diganti dengan warna merah. Penggunaan backgroud merah mungkin sedikit menimbulkan masalah karena warna baju berwarna merah pula. Untuk mengatasi agar warna background tidak menyatu dengan warna baju, perlu adanya rim light dari kanan dan kiri model. Penggunaan rim light sudah bisa menimbulkan dimensi foto yang bagus, namun akan lebih bagus lagi jika bagian rambut diberikan cahaya dari belakang (hair light). Hair light kali ini menggunakan gel warna hijau. Perlu diketahui penggunaan warna hijau tersebut tidak akan menampilkan warna hijau yang pekat akan tetapi berubah menjadi warna kuning dikarenakan warna backgound adalah merah.

To add to the atmosphere with more saturation, the background is replaced with a red color. The use of red background probably have a problem because the color of shirt is red. To overcome that background color doesn't blend with the color of the shirt, the need for rim light from the right and left of the model. The existence of the rim light can cause dimensional light has a good photo, but it would be great if the hair section is given light from behind (hair light). Hair light, this time using a green color gel. Please note the use of the green color will not show a dense green color but turns into a yellow color due to the background color is red.


Setup #3
Fig 4.  Setup #3
Pada setup lighting #3 menggunakan 3 buah warna gel, yaitu kuning, hijau dan biru. Main light menggunakan beauty disc dimana karakter pencahayaan yang dihasikan sangat bagus untuk pemotretan model. Rim ligh menggunakan warna biru dan kuning, dengan lighting untuk backgroun menggunakan warna hijau. Warna hijau yang ditembakkan ke background merah akan menghasilkan gradasi warna orange, sehingga menimbulkan efek dramatis seolah olah model memancarkan cahaya emas.

In the lighting setup # 3 gel using 3 colors, yellow, green and blue. Main light using beauty disc where the characters generated lighting is great for a fashion shoot. Rim ligh using blue and yellow, with background lighting for use in green. The green color is fired into the red background will result in shades of orange, causing a dramatic effect like the model emits a golden light.


By Awan Logika

Lamps Look Like Stars

Gambar 1. Photo PLTU Tanjung Jati B - Jepara

Pada halaman ini saya akan mencoba untuk melakukan analisa foto landscape yang pengambilan gambar dilakukan pada malam hari. Lampu adalah salah satu pemandangan yang menarik untuk diabadikan pada malah hari, akan tetapi terkadang lampu yang terlihat pada kamera hanya tampak seperti bola yang mengeluarkan cahaya.

Apakah kita dapat membuat cahaya lampu ini tampak bersinar seperti bintang?

Jawabannya Pasti Bisa.....
Lampu yang berbentuk bola dapat berubah menjadi seperti bintang dapat dilakukan dengan menggunakan filter Bintang pada lensa. Namun kembali kepada kita, apakah kita mau mengeluarkan dana untuk membeli filter.

Seandainya tanpa menggunakan filter, apakah bisa membuat tampilan bintang tersebut?

Jawabannya Pasti Bisa.....
Mari kita sama - sama memahami konsep dasar sebuah kamera untuk menghasilkan sebuah karya fotografi yang menarik. Parameter yang berhubungan adalah masalah aperture dan lens blades.

Gambar 2. Perubahan besaran aperture
Kita perhatikan Gambar 2. Perbedaan antara kedua gambar adalah pada aperture dan shutter speed. Sejatinya adalah perubahan aperture saja, namun untuk mempertahankan besaran exposure supaya tidak over exposure atau under exposure. Maka otomatis besaran shutter speed lebih lama jika menggunakan aperture yang lebih kecil begitu juga sebaliknya. Kita dapat melihat bahwa penggunaan aperture f/22 menghasilkan bentuk cahaya lampu yang bersinar seperti bintang. Sangat jauh berbeda dengan yang mengunakan f/3.5, bentuk cahaya lampu yang dihasilkan berbentuk  bulat. Pembentukan bintang ini adalah dikarenakan bukaan lensa (aperture) yang sangat kecil sehingga blade dari lensa dapat dilewati sinar. Pada Gambar 2 terlihat bahwa jumlah kaki bintang adalah 6. Jumlah ini merupakan banyaknya blade pada lensa kamera. Semakin banyak jumlah kaki bintang, semakin banyak pula jumlah blade. Semakin banyak jumlah blade maka semakin bagus kualitas lensa tersebut karena lensa tersebut dapat membuka besar ( besaran aperture bisa terbuka lebar f/2.8; f/1.8 dll).

Studio Lighting II (cross lighting photography)


Cross lighting photography, adalah salah satu teknik pencahayaan dimana biasanya menggunakan dua buah lampu yang diletakan secara menyilang. Penggunan cross lighting sangat sering digunakan, karena cross lighting tersebut dapat menghasilkan efek dimensi yang dihasilkan cukup bagus.

Pada halaman ini saya hanya menampilkan hasil setup lampu studio yang pernah saya lakukan (cross lighting), dan penambahan asesoris untuk model pada pemotretan agar lebih kaya variasi pose dan tyle, serta beberapa istilah - istilah photography yang terkadang terlewatkan untuk diperhatikan dalam pemotretan. Dan semua ini dilakukan dengan setup lampu yang sama (cross lighting) dengan harapan bisa menginspirasi kita semua.


*Setup Studio Lighting (cross lighting)

#Foto 1

Setup cross lighting diatas (Foto 1) adalah menggunkan 2 buah jenis studio lighting yang berbeda. Yaitu menggunakan softbox dan standart reflector. Disini power pada kedua lampu diseting sama yaitu 1/2 power. Penggunaan softbox dan standart reflector dapat diatur dengan power yang sama. Dengan alasan karakter lampu standart reflector jauh lebih kerasa dari softbox. Akan tetapi peletakan posisi softbox lebih dekat dengan model agar cahaya halus lebih menyebar rata pada model dan cahaya lampu yang leras dari belakang model dapat membentuk dimensi/pembatas antara model dengan background.


*Moving Photography

#Foto 2

Pada setup lampu studio di atas (Foto 2) sama pada setup nomer 1. Namun disini yang lebih ditekankan adalah pose model. Model di arahkan untuk melakukan gerakan-gerakan tarian yang dengan beberapa kali jepret kita dapat mendapatkan momen yang bagus. Kekuranganya adalah foto yang dihasilkan agak sedikit goyang sehingga terkadang fokus yang didapat kurang bagus.
#Foto 3


#Accessories photography
#Foto 4

#Foto 5

Asesoris disini bukanlah perlengkapan lampu studio, akan tetapi penambahan asesoris untuk model agar pose lebih menarik dan kaya variasi. Pada pemotretan kali ini di tambahkan kipas bulu untuk asesoris model. Kipas bulu ini sangat bagus di padukan dengan baju putih model yang lebih terlihat kalem dan lembut.


Dibawah ini adalah beberapa istilah fotografi yang dapat lebih diperhatikan pada pemotretan dengan setup lampu cross lighting.


*Rembrandt lighting
Adalah teknik pencahayaan yang sering digunakan dalam studio portrait photography. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan satu lampu dan reflektor, atau dua lampu, dan sangat populer karena mampu menghasilkan gambar yang natural dan menarik hanya dengan menggunakan alat yang cukup minim.
#Foto 6

Pencahayaan Rembrandt ditandai dengan adanya bentuk segi tiga menyala dibawah mata model pada bagian wajah model yang kurang pencahayaan. Kata Rembrandt diambil dari nama seorang pelukis asal Belanda.

*BacklightingAdalah pencahayaan yang sangat kuat pada bagian belakang model namun posisinya tidak tepat dibelakang model akantetapi masih membentik sudut sehingga model masih terlihat jelas. Jika pencahayaan tepat berada dibelakang model dan tidak membentuk sudut dan model tidak tersinari sama selali dari sisi depan maka di sebut siluet.
#Foto 7

Pada foto 7 diatas, backlight dihasilkan oleh lampu dengan reflektor agar bentuk backlight bundar dan kuat. Posisi lampu foto 7 sama dengan posisi lampu foto 1, akan tetapi posisi pengambilan gambar agak bergeser kekanan sedikit dengan lebih memperhatikan agar lampu dengan reflektor dibelakang model tetap terlihat sehingga terbentuklah backlight.


*Flare
Adalah cahaya tersebar dalam sistem lensa melalui mekanisme pembentukan gambar. Pada umumnya kehadiran flare tidak dinginkan dalam pengambilan foto. Akan tetapi jika peletakan flare sangat tepat, maka hasil foto yang dihasilkan terlihat lebih dramatis.
#Foto 8

Pada foto 8 diatas, yang dinamakan flare adalah cahaya yang berbentuk bulat berwarna kuning.

*Catch lighting
Adalah istilah fotografi yang digunakan untuk menggambarkan baik cahaya yang menyorot dari mata akibat pantuan yang di pantulkan lensa mata atau sumber cahaya itu sendiri. Catch lighting disebut juga lampu mata atau Obies.
#Foto 9

Yang disebut catch lighting ada pantulan cahaya putih yang berbentuk kotak pada foto di bawah ini, di mana cahaya kotak tersebut adalah pantulan dari softbox.
#Foto catch lighting

Studio Lighting


Hal yang paling penting dalam sebuah karya fotografi adalah pencahayaan (lighting). Pencahayaan dalam fotografi dapat menimbulkan kesan yang berbeda dalam sebuah foto yang dihasilkan. Seperti perasaan, emosi, karakter, dan konten yang kuat dari obyek yang ada didalam foto tersebut. Namun, terkadang untuk menuyusun studio lighting yang bagus dan sesuai konten yang akan ditonjolkan membutuhkan jumlah lampu yang tidak sedikit.

Pada halaman ini yang akan saya bahas bukan bagaimana menyusun studio lighting agar mendapatkan kesan sesuai konten yang di inginkan, akan tetapi bagaimana memaksimalkan penggunaan studio lighting jika kita hanya memiliki dua buah lampu dengan watt yang sama.

Dibawah ini adalah beberapa setup studio lighting dengan jumlah lampu maksimal adalah 2 buah. Semua pemotretan ini menggunakan lampu merek Tronic 150 Ws.

1. Menggunakan 1 buah standard reflector.
#foto 1
Pada pemotretan nomer 1 di atas, adalah pemotretan hanya dengan menggunakan 1 buah standart reflector saja. Sinar yang jatuh pada model sangat keras, sehingga bayangan yang dihasilkan terlihat kuat.

2. Menggunakan 1 buah softbox
#foto 2
Pada pemotretan nomer 2 di atas, adalah pemotretan dengan menggunakan 1 buah softbox. Sinar yang jatuh pada model lebih halus dari pada seting lampu pada nomer 1, sehingga bayangan yang dihasilkan terlihat lebih lembut.

untuk mendapatkan efek dimensi yang berbeda pada gambar 1 dan gambar 2. Peletakan lapu di posisikan 45 derajat dari atas model. Sehingga wajah, rambut dan jatuhnya bayangan terlihat lebih dramatis.

3. Cross Lighting
#foto 3
Pada pemotretan nomer 3 di atas, adalah pemotretan dengan menggunakan 1 buah softbox dan 1 buah standart refelctor. Seting lampu seperti ini yang paling sering dipakai oleh fotografer. Karena dengan meletakan lamu secara menyilang seperti diatas menimbulkan dimensi yang lebih padat pada model. Penggunaan softbox sebagai main light (pencahayaan utama) pada foto nomer 3 di atas, dengan tujuan agar wajah model terlihat lebih cantik akibat cahaya yang menyinarinya sangat halus.

untuk mendapatkan efek dimensi yang padat pada model, softbox dan standart reflector dapat diatur dengan power yang sama (mengingat karakter lampu standart reflector jauh lebih kerasa dari softbox). Akan tetapi peletakan posisi softbox lebih dekat dengan model agar cahaya halus lebih menyebar rata pada model.

4. Membuat warna Background yang berbeda
#foto 4

#foto 5

Pada pemotretan nomer 4 di atas, adalah pemotretan dengan menggunakan 1 buah softbox dan 1 buh standart refelctor. Susunan lampu seperti ini digunakan dengan tujuan agar background berubah menjadi warna putih. Untuk merubah warna background menjadi merah, maka cukup menambahkan gel warna pada lampu yang menghadap background (foto 5).

5. Butterfly Lighting
#foto 6

Seting lampu butterfly sangat bagus untuk memotret seorang wanita, karena bentuk wanita yang halus dan cantik. Dikatakan "Butterfly Lighting" karena terbentuknya bayangan di bawah hidung yang mirip dengan kupu-kupu. Seting lampu utama pada teknik ini hanyalah sebuah lampu dengan softbox yang di letakkan di atas model agar terbentuk bayangan kupu-kupu di bawah hidung. Namun jika efek lampu terlihat flat dan banyak bagian yang gelap di bawah leher, maka di tambahkan sebuah refector di bawahnya.

Seting lampu Butterfly Lighting juga dapat di tambahkan gel seperti di bawah ini
#foto 7


#foto 8

------- pada pemotretan ini reflector menggunakan styrofoam putih -------

6. Hair Light
#foto 9

Penggunaan seting lampu seperti ini biasanya bertujuan agar model dengan background dapat terlihat terpisah. Untuk membuat foto seperti diatas cukup dengan menggunakan 2 buah lampu. Satu softbox diletakkan didepan model dengan membentuk sudut 45 derajat (sebagai main light / pencahayaan utama) dan untuk menghasilkan hair light cukup menggunakan sebuah standart reflector yang dipasang dibagian belakang rambut model.

Modifikasi lain dari seting lampu nomer 6 adalah dengan menggeser sedikit posisi lapu belakang sehingga sedikit bocor menjadi backlight (foto 10) dan mungkin bisa dimofikasi colortone dengan menggunakan photoshop (foto 11)

#foto 10

#foto 11

Pada foto 10 menggunakan F 3,5 sedangkan pada foto 11 menggunakan F 11 dan keduanya menggunakan shutter speed 1/160. Dari sini kita dapat melihat bahwa penggunaan F yang lebih besar (F 3,5 ) akah menghasilkan backlight yang lebih kuat akan tetapi flare juga akan lebih mudah terjadi pada penggunaan F yang lebih besar.

Model : Miza

Behind the Scenes - Tyas

Pada pemotretan Tyas, KOnsep yang saya tawarkan adalah konsep fashion. di mana melihat body tyas sangat cocok dengan konsep pemotretan di luar ruangan. Dalam pemotret kali ini saya menggunakan satu buah flash yang sudah saya modifikasi sedemikian agar flash tersebut bisa di gunakan bukan melalui "hot shoe" akan tetapi menggunakan triger. Modifikasi ini saya lakukan dikarenakan "NISSIN Di622 for CANON" tidak bisa bekerja dengan menggunakan triger merek apapun. NISSIN Di622 dan PT-04 saya modifikasi sedemikian agar keduanya bisa bekerja sebagaimana flash yang ditriger dengan menggunakan PT-04 bukan melalui hot shoe.



Foto NISSIN Di622 for CANON dan PT-04 yang sudah di modifikasi

Dalam pengguaan saat ini, masih belum maksimal. Analisa saat ini ada beberapa kemungkinan penyebab dari kurang maksimalnya modifikasi ini.
1. Dikarenakan flash mempunyai fungsi standby, sebelum menekan shutter kita harus menekan test button pada receiver agar flash dalam keadaan siap menebak bukan standby.
2. Pemilihan jenis jac dan kabel yang kurang bagus, sehingga arus listrik yang sangat kecil pada triger tidak bisa membangkitkan flash untuk melakukan kinerjanya.

Dibawah ini adalah hasil ujicoba flash,


Foto Hasil ujicoba 1, Model :Tyas


Foto Hasil ujicoba 2, Model :Tyas

Behind the Scenes - Street photography "models series"


Foto Dibalik Penataan Flash
Untuk mendapatkan Efek lampu berwarnamerah.... saya pakai baju dengan warna merah. ini dikarenakan lupa untuk membawa gel merah. alhasil lumayan juga efek bajunya. namun pada kamera saturasi di naikan sedikit, agar efek warna merah lebih keluar.


Hasil Uji coba red light