Tampilkan postingan dengan label Model. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Model. Tampilkan semua postingan

LOMBA FOTOGRAFI "ON THE SPOT"


Lomba fotografi "on the spot" adalah lomba fotografi yang dilaksanakan disalah satu lokasi yang di tunjuk dan biasanya penjurian diumumkan pada hari itu juga dengan sistem gugur. Lomba seperti ini sudah sangat menjamur khususnya di surabaya, hampir setiap minggu selalu ada. Fenomena ini terjadi karena setiap orang bisa membuat foto bagus dengan murah karena perlengkapan fotografi yang semakin variatif dan murah. Biasanya event tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk promosi product / program terbaru dari sponsor acara. Saya adalah salah satu penggemar lomba fotografi "on thespot", disamping bisa berkumpul dengan para pehoby foto juga dalam mengikuti enevet tersebut tidak memerlukan banyak tenaga dan waktu.

JUARA LOMBA FOTO "ON THE SPOT"
Apakah sang juara adalah peserta dengan foto terbaik? atau sang juara hanya beruntung? Dan mungkinkah sang juara adalah seseorang yang kenal dengan jurinya?
Pertanyaan diatas pasti terlintas dalam benak kita bukan. Namun beberapa pemikiran saya mengenai Sang Juara Lomba Foto adalah seorang yang beruntung mendapatkan moment terbaik (berbeda dengan hasil foto peserta lain baik angel, pose model, konsep maupun penggunaan lighting tambahan) dengan mengonsep sebuah foto agar kesan sponsor tetap tergambarkan dengan memperhatikan karakter foto yang sangat disukai sang juri. Terkadang foto yang standart bisa menang karena memang juri lebih menyukai foto yang standart, terkadang pula foto miss focus juga bisa menang. Berikut beberapa hasil jepretan saya dengan kelebihan dan kekurangan masing - masing namun masih mendapatkan juara dalam beberapa perlombaan fotografi.


Foto.01 JUARA 2 Loba Foto Launching Honda New Supra X - Tahun 2014
Kekurangan :
Sedikit Over Exposure dengan model 1/3 bagian dari obyek sponsor (Motor New Honda Supra X) dan body motor juga model terpotong (tidak untuh masuk dalam frame).
Kelebihan :
Foto tersebut bisa masuk juara dikarenakan karena menggambarkan keceriaan sang model sesuai tema acara waktu itu (tema acaranya lupa) dan mendapatkan juara 2 karena Juara 1 dan Juara 3 model fotonya sama. Yang paling penting foto tersebut tidak "bocor" (Bocor = penampakan obyek sekitar yang tidak nayaman dan tidal layak masuk frame. contohnya : tangan peserta lain, sampah, tisu bekas model, flash peserta lain. dll).


Foto.02 JUARA 1 Photography Compettion of Majapahit Travel Fair - Tahun 2014
Kekurangan :
Sedikit under exposure sehingga detail belakang model tidak terkangkap dengan jelas. Baju model tidak terlihat jelas.
Kelebihan :
Foto tersebut bisa masuk juara 1 dikarenakan karena adanya keunikan dalam penggunaan flash membentuk bintang pada bagian belakang model (mungkin waktu itu masih sedikit yang menggunakan setting pencahayaan seperti ini) dan wajah model dengan ekspresi yang cantik dengan pose yang selaras dengan gambar di belakang model.

Foto.03 JUARA 2  Loba Foto Launching Honda CBR150R - Tahun 2015
Kekurangan :
Banyak "bocor"peserta lomba foto yang lain.
Kelebihan :
Foto tersebut bisa masuk juara 2 dikarenakan karena adanya keunikan dalam penggunaan flash yang menyinari motor dan wajah model dengan ekspresi cantik dan pose yang sexy sesuai dengan motor yang dipromosikan. Kelebihan lain adalah untuk menutupi bocor wajah - wajah peserta, saya menggunakan fasilitas multiple exposure pada kamera saya dengan mengambil gambar pancaran flash sebanyak 4 (empat) kali dengan diposisikan sesuai seperti foto.03 tersebut diatas.

Foto.04 JUARA 3 Loba Foto - Tahun 2014
Kekurangan :
Ada beberapa ruang kosong dan sedikit over exposure. Model tidak masuk dalam frame secara utuh.
Kelebihan :
Foto jenis seperti ini biasanya tidak bisa menjadi juara 1, dikarenakan penyampaian kesan sponsor tidak tersampaikan. Namun keunikan dalam foto.04 adalah dalam penggunaan komposisi framing yang mungkin tidak terpikir olah fotografer lain dan membawa foto tersebut menjadi juara 3.

Foto.05 JUARA 2  Loba Foto Launching New Ertiga Dreza - Tahun 2016
Kekurangan :
Sepintas foto itu baik-baik saja, namun jika foto.05 diperbesar maka terlihat bahwa foto tersebut "miss focus".
Kelebihan :
Angel dari atas dengan refleksi yang menarik pada mobil serta pose model yang elegan mengantar foto ini menjadi juara 2 meskipun "miss focus".

Demikian beberapa hasil foto jelek saya yang bisa menjadi juara dalam perlombaan fotografi "On The Spot". Semoga dapat menginspirasi bagi semua.

TETAP BERKARYA KARENA SANG JUARA BUKAN BERARTI MEMILIKI FOTO TERBAIK, NAMUN KEJELIAN DALAM MENGKONSEP FOTO DAN MEMBERIKAN KESAN YANG BERBEDA DALAM SEBUAH FOTO ADALAH SANG JUARA SEJATI.

Playing With Color Gel

Fig 1.  Model : Chalista

Penggunaan color gel dalam pemotretan di studio bukanlah hal baru dalam fotografi. Konsep lighting seperti ini biasanya digunakan dalam pemotretan fashion dan beauty shot dimana menonjolkan kenyamanan model dalam menggunakan produk fashion yang dipromosikan. Penggunaan color gel bertujuan menambah dramatis dari suatu foto, dimana secara psikologis manusia sangat tertarik dengan warna dengan saturasi tinggi yang beragam.

The use of color gels in the shooting, is not new in photography. The concept of such lighting is commonly used on shooting fashion and beauty shots which offers comfort fashion model in using the product being promoted. The use of gel aims to add dramatic color of a photo, which humans psychologically very interested in color with high saturation diverse.


Setup #1 
Fig 2.  Setup #1
Dari gambar 2. diatas, dapat kita perhatikan setup lighting yang digunakan. Penggunaan beauty disc untuk main light dengan ditambah 2 buah soft box untuk rim light agar dimensi model tampak jelas. Kemudian ditambah gel warna merah yang ditembakkan ke background. Pemilihan warna merah tersebut menambah dramastis warna merah dari pakaian model, namun kesan yang didapat masih halus dikarenakan ada gradasi warna background putih. 

From Figure 2, we can see the lighting setup used. Use beauty disc to the main light with plus 2 soft boxes to the rim light so that the dimensions of the model was evident. Then add red color gel fired into the background. The red gel adds dramatically red color of the clothes of model, but the impression gained is soft because there are shades of white background.


Setup #2
Fig 3.  Setup #2
Untuk menambah suasana dengan saturasi yang lebih, maka pemilihan backgroud diganti dengan warna merah. Penggunaan backgroud merah mungkin sedikit menimbulkan masalah karena warna baju berwarna merah pula. Untuk mengatasi agar warna background tidak menyatu dengan warna baju, perlu adanya rim light dari kanan dan kiri model. Penggunaan rim light sudah bisa menimbulkan dimensi foto yang bagus, namun akan lebih bagus lagi jika bagian rambut diberikan cahaya dari belakang (hair light). Hair light kali ini menggunakan gel warna hijau. Perlu diketahui penggunaan warna hijau tersebut tidak akan menampilkan warna hijau yang pekat akan tetapi berubah menjadi warna kuning dikarenakan warna backgound adalah merah.

To add to the atmosphere with more saturation, the background is replaced with a red color. The use of red background probably have a problem because the color of shirt is red. To overcome that background color doesn't blend with the color of the shirt, the need for rim light from the right and left of the model. The existence of the rim light can cause dimensional light has a good photo, but it would be great if the hair section is given light from behind (hair light). Hair light, this time using a green color gel. Please note the use of the green color will not show a dense green color but turns into a yellow color due to the background color is red.


Setup #3
Fig 4.  Setup #3
Pada setup lighting #3 menggunakan 3 buah warna gel, yaitu kuning, hijau dan biru. Main light menggunakan beauty disc dimana karakter pencahayaan yang dihasikan sangat bagus untuk pemotretan model. Rim ligh menggunakan warna biru dan kuning, dengan lighting untuk backgroun menggunakan warna hijau. Warna hijau yang ditembakkan ke background merah akan menghasilkan gradasi warna orange, sehingga menimbulkan efek dramatis seolah olah model memancarkan cahaya emas.

In the lighting setup # 3 gel using 3 colors, yellow, green and blue. Main light using beauty disc where the characters generated lighting is great for a fashion shoot. Rim ligh using blue and yellow, with background lighting for use in green. The green color is fired into the red background will result in shades of orange, causing a dramatic effect like the model emits a golden light.


By Awan Logika

Strobist Photography I (dasar teknik strobist)


Pada dasarnya strobist berasal dari kata strobe yaitu lampu flash atau alat untuk kepentingan fotografi yang dapat menghasilkan cahaya terus menerus. Sebenarnya semua fotografi yang menggunakan flash bisa dikatakan strobist, namun pada saat ini yang dikatakan stobist jika menggunakan flash secara off-camera (flash tidak diletakkan pada dudukn flash yang ada pada body camera).

Apa sih sebenarnya fungsi flash?
Dan kapan saat terbaik kita menggunakan flash?

Pemikiran sederhananya, flash berfungsi untuk memberikan cahaya diasaat sebuah obyek / subyek itu dalam keadaan gelap. Sedangkan waktu penggunaan flash biasanya saat memotret di dalam ruangan dan saat malam hari.

Apakah penggunaan flash di luar ruangan pada siang hari itu suatu tindakan bodoh?

Selain untuk menerangi pada tempat gelap, fungsi flash adalah untuk mengontrol cahaya. Pengertian mengontrol sangat berbeda dengan menerangi. Penggunaan flash dikatakan “menerangi” jika tanpa menggunakan flash, foto yang dihasilkan sangat gelap dan hasil foto menjadi hitam dan fungsi flash dikatakan “mengontrol cahaya” jika walaupun tanpa menggunakan flash, foto yang dihasilkan masih jelas dilihat, namun ada beberapa bagian yang gelap dan sedikit menggangu. Bagian yang gelap ini perlu adanya fill flash untuk menyeimbangkan pencahayaan. Contoh penggunaan fill flash adalah saat kita memotret orang di pantai pada sore hari, dimana menggunakan flash dengan power tertentu agara orang terlihat jelas dan warna langit sore juga nampak.

Pada artikel ini, saya akan membahas mengenai dasar penggunaan flash off-camera atau yang disebut teknik strobist.

-:- Perlengkapan Strobist -:-
Cukup dengan menggunakan sebuah flash, triger (transmitter dan reciever) dan sebuah DSLR disertai lensa kita dapat melakukan teknik fotografi strobist. Sebelum masuk dalam teknik stobist, beberapa peralatan yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut:

Flash
Kita harus mempersiapkan sebuah flash yang mendukung untuk strobist. Pemilihan jenis flash harus diperhatikan karena ada beberapa jenis flash yang tidak dapat digunakan untuk strobist. Hal ini dikarenakan komponen dari flash tersebut tidak dapat bekerja jika kita menggunakan triger, contoh: flash merek nissin tipe Di622.

Trigger
Trigger terdiri dari dua komponen utama, yaitu satu sebagai transmiter yang diletakkan pada shoe camera (dudukan flash) dan satu lagi sebagai reciever yang memliki shoe untuk meletakkan flash.

Kamera
Tentunya persiapan pada kamera adalah kosongkan memori dan batrai pada kondisi daya penuh.


-: Dasar Strobist :-


Semua butuh proses !!!
Keterbukaan dalam menerima kritik dan saran baik dari senior maupun pemula fotografi, menambah luas wawasan. Egois memang karakter, namun bukan mempersempit.





Banyak sekali blog yang menjelaskan masalah strobist, namun mungkin penjelasan yang ada sudah terlalu jauh dan kompleks. Akibatnya bagi para fotografer pemula sangat sulit untuk mendapatkan informasi tentang dasar - dasar penggunaan flash dalam teknik strobist. Bahkan mungkin sorang pe-hobi fotografi yang sudah lebih dari 3 Tahun berkecimpung dalam fotografi belum memahami variabel apa saja yang sangat penting dalam teknik strobist. Beberapa variabel yang penting dalam teknik strobist adalah :
Shutter speed,
Aperture,
Flash power,
ISO
Dan jarak flash dengan model.


-:- Shutter speed 
Shutter speed atau kecepatan rana adalah lama waktu rana kamera terbuka. Lama atau tidaknya kecepatan rana terbuka sangat mempengaruhi terang atau gelap dari sebuah foto yang disebut dengan exposure. Jika foto dalam keadaan sangat terang disebut over exposure dan jika foto dalam pencahayaan yang kurang di sebut under exposure. Dalam teknik strobist, shutter speed berfungsi untuk

Mengontrol ambient exposure. 

Ambient,  adalah cahaya yang sudah tersedia (suasana cahaya pada sekitar lokasi pomotretan apa adanya. Contoh: lampu jalan yang menerangi jalan berwarna kuning).
Gambar 2.1 Night shoot

Ambient di jalan raya pada malam hari adalah suasana lampu jalan yng berwarna kuning. Agar suasana pencahayaan jalan itu masih terekam kamera secara alami maka gunakan shitter speed  yang rendah, contoh 1/60 seperti pada gambar 2.1. Jika shutter speed yang digunakan cepat (lebih dari 1/160 )maka bagian belakang model akan menjadi gelap. Peristiwa tersebut dikatakan shutter speed berfungsi untuk mengontrol ambient exposure. Kendala yang terjadi antara shutter speed dengan flash adalah, adanya sync speed. Sync speed maksimal adalah  pada kecepatan rana 1/200. Namun, dengan triggrer tertentu, kecepatan rana tersebut dapat dinaikkan hingga 1/1000 bahkan lebih.
Gambar 2.2 Shutter Speed

Keterangan:

1/125
Adalah kecepatan yang sangat bagus dalam sync dengan flash.

1/50
Penurunan shutter speed tidak mempengaruhi flash exposure.

1/250
Cahaya flash yang terekam adalah ½ saja. Akibat speed yang terlalu tinggi melebihi sync speed.

1/320
Hampir semua flash tidak dapat direkam kamera, karena speed yang  sangat cepat.                               






-:- Aperture
Gambar 2.3 Flash Exposure

Aperture atau yang sering disebut dengan istilah bukaan lensa, berfungsi untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk film atau sensor. Besarnya aperture juga sangat mempengaruhi exposure. Semakin besar bukaan lensa, maka foto yang dihasilkan semakin terang. Dalam teknik strobist, apertute berfungsi untuk

Mengontrol flash exposure.

Pada kamera SLR, penulisan aperture dilambangkan dengan huruf F. Nominal variabel F yang paling besar pada kamera adalah besar aperture lensa yang paling kecil, begitu juga sebaliknya. Misalnya : Pada kamera menunjukan F13 dengan F2.8. Aperture lensa yang paling besar adalah F2.8, karena pada F13 berarti 1/13 bagian dari aperture lensa yang terbuka sedangan F2.8 berarti 1 / 2.8 bagian aperture lensa yang terbuka. Secara matematik sudah dapat dipahami bahwa 1 / 2.8 lebih besar daripada 1/13. Pada gambar 2.3 dapat dilihat jika aperture itu lebih besar maka terjadi over exposure, sedangkan jika aperture lebih kecil makan terjadi under exposure. Teori seperti tersebut lah yang dikatakan bahwa aperture berfungsi untuk mengontrol flash exposure.

-:- Flash power
Pada perangkat flash terdapat beberapa range kekuatan intensitas cahaya yang disebut flash power. Beberapa jenis flash tipe tertentu, tidak memiliki power range,  hal itu dikarenakan intensitas cahaya yang dihasilkan flash  yang kecil. Besar kecilnya intensitas cahaya pada flash dinamakan GN. Range pada sebuah flash adalah :

1/1 Full
1/2
1/4
1/8
1/16
1/32
1/64
1/128

Besar kecilnya flash juga sangat mempengaruhi exposure dari sebuah foto. Dalam teknik strobist, untuk melakukannya mode flash harus pada posisi manual. Penggunaan manual bertujuan agar intensitas cahaya yang dihasilkan flash konstan. Jika intensitas flash berubah-ubah, maka exposure tidak bisa dikontrol.

-:- ISO
Pada kamera DSLR, asa film sudah digantikan dengan ISO. ISO sendiri adalah variabel besaran sensitifitas dari sensor gambar untuk menerima cahaya. Semakin besar nilai ISO maka sensitifitas sensor gambar terhadap cahaya semakin besar pula. Penggunaan ISO tinggi biasanya pada pengambilan gambar saat pencahaaayn sangat kurang. Namun pada ISO tinggi,  gambar yang dihasilkan akan terdapat banyak sekali noise. Dalam teknik strobist, kita tidak membahas masalah noise.
Gambar 2.4 Flash Exposure

Besarnya nilai ISO dalam teknik strobist sangat mempengaruhi besarnya nilai aperture dan flash power dalam mengontrol exposure.

Jika nilai ISO berubah, makan besarnya nilai aperture dan flash power dari kamera ikut berubah untuk mengimbangi exposure.  Perhatikan gambar 2.4, kitadapat menganalisa pengaruh perugahan ISO pada gamber tersebut. Pada kondisi pertama, seting kamera adalah F=f/5.6 T=1/125 ISO=100 flash = 1/8 power. Pada kondisi kedua, seting kamera adalah F=f/5.6 T=1/125 ISO=200 flash = 1/8 power. Kondisi kedua ISO dinaikan, akibatnya gambar yang dihasilkan over exposure. Agar foto yang dihasikan natural namun pada kondisi flash power tetap, maka nilai aperture dirubah pada f/8.0.

-:- Jarak Flash dengan Model
Variabel terakhir yang perlu diperhatikan pada teknik strobist adalah jarak flash dengan model. Dasar teori yang digunakan adalah Inverse Square Law. Inverse square law adalah teori cahaya yang banyk sekali penerapannya, baik dibidang fisika, matematika dan lain sebagainya. Namun dalam fotografi Inverse square law digunakan untuk menentukan besarnya aperture saat obyek / subyek foto bergerak mendakat atau menjauhi cahaya dengan rumus f = G/d ; f = aperture lensa, G =  GN (guide number) flash, d = jarak flash dengan model
Gambar 2.5 Perubahan jarak model dengan flash
Keterangan :
  1. Posisi awal model dengan exposure normal.
  2. Model mundur 1 langkah.
Gambar 2.5 diatas, dapat dilihat bahwa perubahan posisi model yang mundur satu langkah dapat mengakibatkan under exposure.

referensi :
http://zackarias.com
http://photo.tutsplus.com
http://www.portraitlighting.net

Side lighting

Side lighting atau cahaya samping adalah cahaya yang datang dari sisi kanan atau kiri dari subyek / obyek. Cahaya dari samping ini bukan berarti cahaya tersebut benar - benar berada pada sudut 90 derajat diukur dari garis vertikal, akan tetapi  bisa saja cahaya itu berada pada sudut 45 derajat dari samping dan bahkan lebih asal tidak berada tepat pada garis vertikal . Intinya, cahaya yang jatuh pada subyek / obyek adalah terlihat dari samping, bukan dari atas yang nantinya hanya bagian rambut saja yang tersinari cahaya atau dari bawah yang nantinya dapat menimbulkan kesan horror. Cahaya dari atas tersebut lebih sering disebut dengan istilah top lighting sedangkan yang dari bawah disebut bottom lighting.
Pada halaman ini saya akan membahas bagaimana penggunaan side lighting untuk pemotretan model sehingga model terlihat lebih berkarakter. Model kali ini adalah duty yang memiliki karakter tegas namun sexy dengan kulit coklat dan potongan rambut yang sangat pendek.


Side lighting untuk Karakter Lembut dan Sensual

 Gambar 1.Mata dan bibir
Mari kita perhatikan pada gambar 1 disebelah ini. Kesan yang didapat adalah sebuah tatapan mata yang tajam dan berkesan misterius dengan sebuah tangan yang menutupi hidung dan bibir sensual yang masih dapat dinikmati walaupin sedikit samar. Posisi tangan seperti pose pada gambar 1 bertujuan agar kesan misterius lebih berasa pada model, sehingga pandangan kita mula –mula menuju pada sebuah mata dan bibir yang samar - samar namun sensual. Asesoris kalung berlian berwarna hitam dapat mengimbangi komposisi warna kulit model yang berwarna coklat dengan backwall yang berwarna merah, dan juga agar tidak berkesan kosong pada bagian bahu dari model yang nantinya kalung tersebut juga akan menggiring pandangan kita kemata dan bibir model.


====================================================================
 Gambar 1.2 Side lightingsetup untuk mendapatkan kesan lembut
Keterangan :
  1. Detail rambut nampak akbiat sinar dari standart reflaktor.
  2. Catch light  dari softbox sisi kanan model.
  3. Detail bahu model akibat pantulan sinar dari backwall.
Lighting setup foto diatas adalah menggunakan 2 buah lampu, yaitu sebuah standart reflector dengan softbox dan sebuah standart reflector saja tanpa softbox atau perlengkapan studio lighting yang lain.
Lighting setup pertama, adalah menggunakan sebuah standart reflector dengan softbox yang diposisikan 45 derajat dari bidang vertikal dan diletakkan pada sebelah kiri model.Setup seperti tersebut dikatakan side lighting karena cahaya yang mengenai model berasal dari samping, walaupun sudut peletakannya adalah 45 derajat dari bidang vertikal.Peletakan lighting pada sudut 45 derajat ini dapat menghasilkan catch light yang jauh lebih bagus di banding dengan meletakkan posisi lampu pada sudut 90 derajat dari garis vertical.
Lighting setup yang kedua, adalah sebuah standart reflector yang diarahkan ke backwall berwarna merah. Penggunaan lampu kearah backwall ini agar backwall tersinari, sehingga dinding dan model terpisah.  Selain itu penyinaran pada dinding merah tersebut agar warna merah dinding dapat terekam kamera.dan juga pantulan cahaya pada backwalldapat menghasilkan detail garis bahu yang bagus pada  model.

Side lighting untuk Karakter Keras dan Tegas
Gambar 2.Aku dan Gitar Putih
Biasanya, peletakan lampu untuk side lighting adalah hanya menggunakan salah satu sisi saja. Sisi kanan saja, atau sisi kiri saja dari model saja.

Namun bagaimana jika kita meletakkan lighting pada sisi kanan dan sisi kiri?

Peletakan lighting pada sisi samping kiri dan kanan model akan menghasilkan karakter foto yang jauh berbeda. Perbedaan disini adalah karakter dari model akan berkesan lebih tegas dan lebih berani. Posisi lighting pada sisi kanan dan kiri ini biasanya dilakukan dalam pemotretan model laki-laki untuk iklan sport, parfum laki-laki, dan lain sebagainya.

Namun, bagaimana jika model yang kita foto adalah seorang perempuan?Apakah pantas dan sesuai?

Mari kita perhatikan gambar 2 diatas. Posisi lampu pada sisi kanan dan sisi kiri, akan menghasilkan kesan karakter yang tegas dengan tatapan model yang tajam namun masih tetap terlihat sexy dengan lekukan – lekukan garis yang terbentuk pada setiap body model.Bentuk body gitar putih yang digunakan sebagai asesoris juga sangat mendukung kesan sexy pada foto tersebut, karena lekukan – lekukan gitar tersebut dapat terekam kamera dengan bagus akibat efek pencahayaan pada seting side right and left lighting. Warna putih gitar dapat mengimbangi komposisi warna – warna gelap di sekitarnya, seperti warna baju yang hitam, dan juga dinding yang berwarna hitam dan merah.

Gambar 2.1Side right and left lightingsetup untuk mendapatkan kesan tegas
Keterangan :
  1. Bagian yang gelap akibat kondisi payung tidak terbuka penuh
  2. Tepi dari gitar terlihat jelas.
  3. Detail tekstur backwall terlihat keras.
Seting studio lightingpada foto diatas adalah menggunakan 2 buah lampu, yaitu standart reflector dengan payungperak dengan posisi payung yang tidak terbuka penuh.
Payung dikondisikan agar tidak terbuka penuh dengan tujuan agar cahaya yang dihasilkan tidak menyebar kemana - mana yang nantinya hanya menghasilkan foto dengan pencahayaan datar. Peletakan payung adalah pada sudut 45 derajat dari garis vertikal, sehingga cahaya yang jatuh dimodel akan terlihat terang pada bagian kepala dan berangsur – angsur gelap pada bagian kaki.
Kondisi lighting seperti setup diatas, juga agar mendapatkan tepian dari body gitar yang menambah kesan sexy pada model. Akan tetapi gitar terlihat gelap, sehingga pose yang seperti diatas tidak bagus untuk pemotretan iklan gitar.
Lekukan tubuh, lekukan tepian gitar adalah hal – hal yang ingin didapat pada setingstudio lighting seperti ini.Posisi model diarahkan menempel dengan backwall, dengan alasan agar detail tekstur dan warna backwall dapat terekam dengan indah pada kamera. Jika model jauh dari backwall, maka dinding hitam-merah tersebut akan terlihat gelap dan dapat mengurangi keindahan dari hasil foto.

Side lighting untuk Membentuk Perut Sexy
Terkadang istilah foto selalu menipu itu benar.Akan tetapi menipu yang bagaimana yang dimaksut?Apakah menipu dalam artian olah digital (menggabungkan beberapa foto menjadi sebuah foto yang utuh) ?
Sebenarnya konteks foto itu tidak menipu, akan tetapi bagaimana kita membuat foto yang biasa menjadi luar biasa dengan beberapa trik dan konsep fotografi yang original bukan sekedar edit dengan photoshop. Pengaruh pencahayaan pada foto juga dapat menimbulkan kesan yang berbeda–beda dan bisa dibilang menipu.  Pencahayaan tertentu bias menampilkan model berbusana lengkap terlihat tanpa busana, pencahayaan tertentu juga bias membuat model hitam terlihat lebih putih dan bersih.
  Gambar 3. Perutku sexy
Mari kita perhatikan gambar 3 diatas. Posisi lampu pada sisi kanan dan sisi kiri, akan menghasilkan karakter yang tegas dengan tatapan model yang tajam namun masih tetap terlihat sexy dengan lekukan – lekukan garis yang terbentuk pada setiap tepi body model, ditambah pose yang membikin penasaran khususnya bagi kaum adam. Kesan sexy adalah yang ingin disampaikan sang model, pose yang membikin penasaran dengan membuka sebagian baju minimnya sehingga perut dapat terlihat jelas ditambah resleting celana pendeknya yang dibuka sedikit membikin lebih penasaran.Warna kulit model, backwall hitam dan merah, serta baju hitam dan celana blue jean serasa semimbang dengan karakter cahaya yang dihasilkan dan kesan yang ingin disampaikan.

Gambar 3.1Side right and left lightingsetup untuk membentuk perut sexy
Keterangan :
  1.  Bayangan ditengah perut, menjadikan perut terkesan sexy.
  2. Bayangan ditengah hidung, menambah kesan mancung.
Seting studio lighting pada foto diatas adalah menggunakan 2 buah lampu, yaitu standart reflector dengan payung perak dengan posisi payung yang tidak terbuka penuh dan diposisikan pada sudut 45 derajat dari bidang vertikal.

Penataan lighting seperti diatas, akan menghasilkan bayangan ditengah model pada kondisi lighting power, dan jarak  lighting dengan model dari sisi kanan maupun sisi kiri sama.Bayangan ditengah akibat seting lampu tersebut, justru menambahkan kesan perut menjadi lebih sexy ditambah dengan bentuk pusar lebih terlihat.Sehingga foto yang dihasilkan sangat menarik dan dramatis.

Pada bagian hidung model, juga terbentuk bayangan ditengah – tengahnya.Hal ini menimbulkan kesan hidung terlihat sedikit lebih mancung dari aslinya. Penggunaan lighting power dan jarak lighting dari model yang sama persis adalah pokok utama untuk menghasilkan bayangan yang bagus dan tepat ditengah model, disamping juga pose dan penataan model yang tepat pula yang dapat mendukug hasil foto yang luar biasa.

semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua..... salam
 Awan Logika

Rule of Third in Models Photography


Dalam dunia fotografi, Rule of third atau aturan 1/3 bagian adalah salah satu komposisi pengambilan gambar bagaimana caranya memposisikan obyek di 1/3 bagian dalam frame foto. Aturan ini mungkin lebih tepat disebut sebagai panduan, sebab tidak selamanya penempatan obyek di 1/3 bagian foto itu nikmat untuk dilihat bergantung dari obyek dan hasil foto yang dihasilkan oleh fotografer. Pada halaman ini akan dibahas bagaimana memanfaatkan komposisi rule of third pada pemotretan model versi awan logika.

In the world of photography, Rule of third or the rules of third part is a composition of shooting how to position objects in the third part in a photo frame. This rule may be moreaccurately described as a guide, because it is not always the placement of objects in the third part of the photo's delicious to be seen depending on the object and the images produced by photographers. On this page will discuss how to utilize the rule ofthird in the shoot.


Disamping ini adalah gambaran sebuah frame yang di bagi menjadi tiga bagian pada horisontal dan tiga bagian pada vertikal, sehingga jika garis pembagi horisontal dan vertikal di jadikan satu dalam sebuah frame akan membentuk 9 kotak kecil. Dalam pemotretan model outdoor, komposisi seperti ini yang paling disukai. Karena dengan menggunakan komposisi rule of third dalam sebuah frame. Bukan hanya foto dari model saja yang didapat, akan tetapi suasana disekitar model dapat tertangkap dengan manis dalam sebuahframe foto.

Beside is a picture of a frame divided into three parts in three parts on the horizontaland vertical, so that if the horizontal and vertical dividers made ​​in one in a frame will form the nine small boxes. In the outdoor shoot, this composition is most preferred.Because by using the composition rule of third in a frame. Not just pictures of the modelare obtained, but the atmosphere around the model can be caught with a sweet insebuahframe photos.



Session 1
------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada sesi 1, dapat kita perhatikan bagaimana memposisikan model dengan komposisi rule of third. Foto yang dihasilkan bukan hanya pose model saja, akan tetapi suasana disekitarnya menambah dramatis dari foto tersebut.

In session 1, we can consider how to position the model with the composition rule of third. The resulting image is not only the pose of a model, but also the atmosphere surrounding the dramatic increase of the photo.

Session 2
------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada sesi 2, dapat kita perhatikan bagaimana memposisikan model dengan komposisi rule of third yang dikombinasikan dengan komposisi framining. Model tetap di posisikan pada 1/3 bagian dari foto dengan tembok yang agak hancur digunakan sebagi farame. Motif pecahan tembok ini cukup menarik untuk di gunakan sebagai frame.

In session 2, we can consider how to position the model with the third rule of composition is combined with the composition framining. The model remained inposition on the third part of the photo with a slightly broken walls used as farame. Wall fractions is quite attractive for use as a frame.


Session 3
------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada sesi 3, dapat kita perhatikan bagaimana memposisikan model dengan komposisirule of third. Pembeda pada foto diatas adalah saya mencoba menggabungkan komposisi rule of third dengan memanfaatkan komposisi garis diagonal. Penambahan komposisi garis diagonal ini dapat menambahkan kesan yang dalam pada foto, sehingga karakter model jauh lebih kuat.

In session 3, we can consider how to position the model with the composition rule of third. Differentiator in the session-3 is I try to combine the third rule of composition by utilizing the composition of diagonal lines. The addition of the composition of these diagonal lines can add a deep impression on the photo, so the character of the model is much more powerful.

Model : Oki Permatasari Handoko
Wardrobe : MOOIE Boutique
Location : Waru - Sidoarjo , east java, Indonesia